Di hari libur Minggu Pahing, Punokawan berkunjung ke Karang Kedempel, rumah Ki lurah Semar, dan seperti biasa, terjadi dialog kecil kecilan :

Gareng: Romo… pernah dicaci maki seseorang?
Semar: Pernah
Petruk: Pernahkah dimusuhi seseorang, Mo?
Semar: Pernah
Bagong: Apa pernah dibenci seseorang, Mo?
Semar: Pernah
Gareng: Sampean juga pernah dihujat seseorang, Mo?
Semar: Pernah

Petruk: Apakah semua itu dilakukan secara terang-terangan, Mo?
Semar: Ada yg dilakukan secara terang-terangan, ada juga yg hanya dilakukan secara diam-diam dari belakang.
Bagong: Lantas apa yg Romo lakukan terhadap orang-orang itu?
Semar: Anak-anakku cah bagus, podo di rungokno yo… Aku tidak balik mencaci maki dia, aku pun tidak merasa harus memusuhinya, tidak pula akan membencinya dan aku juga tidak berpikir akan membalas hujatannya.
Gareng: Kenapa bisa gitu, Mo?
Semar: Itu karena pikiran serta hatiku tdk terfokus pada siapa yg mencaci maki, siapa yg memusuhi, Siapa yg membenci, dan siapa yg menghujat. Pikiran dan hatiku hanya terfokus pada siapa yg menggerakkan lidah mereka, sehingga mencaci maki aku. Siapa yg menggerakkan jiwa mereka sehingga memusuhi aku? Siapa yg menggerakkan hati mereka sehingga membenci aku? dan siapa yg menggerakkan pikiran mereka sehingga membuat mulutnya menghujat aku?
Petruk: Siapa, Mo?
Semar:
Dia adalah GUSTI yang Maha menggenggam Ruh dan Jasad setiap makhluk-NYA.
DIA-lah sebagai Maha yang berkuasa atas segala sesuatu yang sudah, belum, sedang, dan yang akan terjadi.
Ya hanya DIA-lah satu-satu-NYA yang memberi kemampuan dan kekuatan pada orang-orang itu, sehingga lidahnya bisa mencaci maki, jiwanya bisa memusuhi, pikirannya bisa membenci dan bibirnya bisa menghujat diri ini.
Tanpa-NYA tentu mustahil bisa terjadi. Sehingga aku beranggapan, sebenarnya cacian, kebencian, permusuhan dan hujatan itu sengaja dihadirkan GUSTI, agar jiwaku menjadi kuat melewati rintangan dan hatiku menghebat, tatkala menghadapi ujian.
Jadi adalah salah besar, jika aku menyalahkan orang-orang itu, apalagi membalasnya oh… Bagiku itu tidak perlu. Bahkan aku memiliki keyakinan, bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan ini tidak mungkin terjadi secara tiba-tiba. Semua sudah diatur sedemikian rupa oleh DIA, maka apapun kenyataan yg aku terima kemarin, hari ini atau suatu hari nanti, tidak ada kata sia-sia, bahkan dibalik semua itu, pasti ada hikmah terbaik yg bisa merubah kehidupanku agar menjadi lebih baik dari sebelumnya. Karena aku tahu, sesungguhnya GUSTI itu MAHA BAIK, maka sangat mustahil DIA berbuat jahat.

Anak-anakku semuanya…

Jangan takut dihina dan jangan senang dipuji. Tidak penting dianggap baik, tetapi yang penting teruslah belajar jadi orang yg bertanggung jawab

Akhirnya semua tertawa….Gareng, Petruk, Bagong…matur nuwun romo Semar..

Petuah Romo Semar Ben ojo Gampang Nesu
WhatsApp 0852 9024 1688